anak mungil itu lekat mata yang tertunduk bahu bungkuk tanpa rusuk tangis tak berduka sorot tak berasa kemarilah mungil biar kudekap engkau kuganti tangan kotormu dengan jariku seka matamu dengan bahuku lihat mataku aku ada di sisimu
Aku berlari sendiri Bermain di lapangan lebar yang terangkangi langit lepas dengan sepoian angin lembut dan belaian matahari di pipi apakah aku ini? membenci kepalsuan dan pengkhianatan, tapi bermanja dengan mereka? sebagaimana mencaci kemunafikan dan sementara masih bermesraan dengannya? memahami kejujuran sebagai kenyataan absurd pada diri manusia mungkin aku yang tidak terlalu jujur, ataukah manusia lain yang tidak juga begitu. entahlah. mungkin memang keyakinan yang dibutuhkan. tertegun dalam pilihan berjejak jelas antara keimanan dan pengingkaran. apakah iman berarti cinta, dan ingkar berarti nafsu? sebagaimana kanan dan kiri yang begitu jelas terdefinisi? memilih untuk tak memilih sama saja memilih mati dan tak berarti. memilih untuk tak meyakini sama saja dengan memilih keyakinan. tapi, sapaan hangat sang fajar dan lambaian senja sudah menyatakan. tubuh mungil ini tak berkuasa apa-apa selain pongah atas kenyataan diri yang begitu kerdil. membohongi diri sendiri dan menikmati kebohongannya. mengeluarkan nafas berlian dari mulut comberan. menyadari ketakberdayaan tapi lari dari kesadarannya. lemah. tahu harus kembali, tapi tak punya kekuatan lebih untuk berlari. kekuatan dalam ketakberdayaan, yang dalam cerita sejarah kehidupan manusia selalu terjadi di saat-saat manusia akan mati. penyerahan diri. ada yang terlambat, ada juga pada saat yang tepat. menyebut NamaNya yang seakan hilang dalam nafas harian. tapi begitu nyata dalam nafas kematian. mungkin terlalu malu karena Nama suci itu harus keluar dari mulut sang pendosa. tapi, setiap manusia adalah pendosa bukan? dan pilihannya hanya dua. mengakui dirinya memang pendosa dan bertekuk lutut bersembah sujud, atau mengingkari semuanya, berusaha untuk terus berdiri pongah dan tak merasa salah. jawaban dan pilihannya ada pada kejujuran. Allah….hh…
Aku berlari sendiri Bermain di lapangan lebar yang terangkangi langit lepas dengan sepoian angin lembut dan belaian matahari di pipi apakah aku ini? membenci kepalsuan dan pengkhianatan, tapi bermanja dengan mereka? sebagaimana mencaci kemunafikan dan sementara masih bermesraan dengannya? memahami kejujuran sebagai kenyataan absurd pada diri manusia mungkin aku yang tidak terlalu jujur, ataukah manusia lain yang tidak juga begitu. entahlah. mungkin memang keyakinan yang dibutuhkan. tertegun dalam pilihan berjejak jelas antara keimanan dan pengingkaran. apakah iman berarti cinta, dan ingkar berarti nafsu? sebagaimana kanan dan kiri yang begitu jelas terdefinisi? memilih untuk tak memilih sama saja memilih mati dan tak berarti. memilih untuk tak meyakini sama saja dengan memilih keyakinan. tapi, sapaan hangat sang fajar dan lambaian senja sudah menyatakan. tubuh mungil ini tak berkuasa apa-apa selain pongah atas kenyataan diri yang begitu kerdil. membohongi diri sendiri dan menikmati kebohongannya. mengeluarkan nafas berlian dari mulut comberan. menyadari ketakberdayaan tapi lari dari kesadarannya. lemah. tahu harus kembali, tapi tak punya kekuatan lebih untuk berlari. kekuatan dalam ketakberdayaan, yang dalam cerita sejarah kehidupan manusia selalu terjadi di saat-saat manusia akan mati. penyerahan diri. ada yang terlambat, ada juga pada saat yang tepat. menyebut NamaNya yang seakan hilang dalam nafas harian. tapi begitu nyata dalam nafas kematian. mungkin terlalu malu karena Nama suci itu harus keluar dari mulut sang pendosa. tapi, setiap manusia adalah pendosa bukan? dan pilihannya hanya dua. mengakui dirinya memang pendosa dan bertekuk lutut bersembah sujud, atau mengingkari semuanya, berusaha untuk terus berdiri pongah dan tak merasa salah. jawaban dan pilihannya ada pada kejujuran. Allah….hh…
I've saved the best part for last, l...
I've saved the best part for last, l...
I've saved the best part for last, l...
http://www.jed-afrique.org/fr/index.p...
Hello.The ruling Democratic Party of ...