Pengalaman
Bangganya Punya SIM Jepang PDF Print E-mail

Catatan: tulisan ini cukup panjang - sekitar 4 halaman A4 - scrap yang dibuat sejak pertengahan tahun 2009 - Juli 2010 (setahun???) selamat menikmati!

Satu setengah tahun sudah keluarga kami melakukan perjalanan di Jepang menggunakan transportasi umum. Tahun ini kami ingin mencoba sesuatu yang baru: menggunakan mobil. Dilihat dari sisi ongkos, menyewa mobil untuk keluarga mungkin akan lebih mahal daripada menumpang kereta atau bis, tetapi kenyamanan dan fleksibilitas jadwal, terutama bagi yang memiliki anak kecil, adalah hal yang tidak dapat digantikan dengan uang.

Syarat utama menyewa mobil di Jepang adalah, tentu saja, Surat Izin Mengemudi (SIM). Sayangnya Indonesia tidak terdaftar dalam negara yang menandatangani konferensi Jenewa, jadi SIM Indonesia (bahkan yang internasional sekalipun) tidak dapat digunakan. Hal ini mengakibatkan semua pemegang SIM Indonesia harus mengikuti ujian persamaan untuk mendapatkan SIM Jepang.

Mendapatkan SIM Jepang terkenal sulit, dan sebagian besar orang memilih untuk mendaftar ke sekolah mengemudi dengan biaya kursus sekitar 200.000 yen atau sekitar 20 juta rupiah (!!). Sebagai perbandingan, harga mobil baru di Jepang (tidak termasuk pajak dll) kira-kira sama, bahkan lebih murah daripada di Indonesia 

Sebenarnya terdapat tiga jalur pilihan untuk mendapatkan SIM Jepang:

  • mulai dari awal dengan kursus,
  • mulai dari awal tanpa kursus,
  • dan mengubah (konversi) SIM negara asal menjadi SIM Jepang.

Jalur ketiga hanya membutuhkan uang pendaftaran sebesar 4.600 yen, dan mensyaratkan pemohon SIM telah memiliki SIM negara asal sedikitnya 3-4 bulan berturut-turut sebelum masuk ke Jepang. Berbekal keyakinan mengemudi sejak 1997, dan dengan pertimbangan ekonomis, saya pilih jalur ketiga. Sayangnya ternyata SIM saya sudah tidak berlaku sehingga tidak memenuhi syarat 3 bulan di atas, dan harus membawa surat keterangan dari kepolisian Indonesia bahwa kita sudah memiliki SIM sebelumnya. Surat ini dengan mudah bisa dibuat di kota kita masing-masing, dan sudah berbahasa Inggris.

Setelah mendapatkan stempel legalisir terjemahan SIM dari Kedutaan Besar Republik Indonesia di Tokyo (tentu saja bayar, sekitar 2.500 yen), kita dapat melanjutkan ke tempat ujian SIM di Samezu (untuk yang tinggal di Yokohama bisa mendatangi Futamatagawa) membawa terjemahan, surat keterangan dan pas foto berukuran 3 x 2.4 sentimeter (plus SIM kita yang masih berlaku).

Gedung tempat ujian ternyata biasa saja, mengingatkan pada tempat ujian SIM di Indonesia. Terdapat banyak papan petunjuk (yang tentu saja menggunakan tulisan Jepang) bagi pelamar SIM, mulai dari loket pendaftaran hingga pengambilan SIM, dan ruang tunggu yang ada sama sederhananya seperti di tanah air. Terdapat pula lapangan tempat ujian praktik mengemudi di samping gedung, bedanya tidak ada seorang pun yang boleh masuk daerah ujian praktik seperti di tanah air

Setelah urusan administrasi selesai, kita harus menunggu sekitar setengah jam untuk dipanggil melakukan ujian tertulis. Ujian tertulis di sini menggunakan komputer dengan layar sentuh, berisi soal pilihan BS (betul salah). Yang menarik adalah kita dapat memilih untuk mengambil ujian berbahasa Indonesia, ya, dengan bahasa kita! Soal diberikan dalam bentuk lisan, jadi kita bisa mendengarkan suara familiar wanita berbahasa Indonesia, mirip-mirip dengan suara mantan presiden wanita kita (silakan bayangkan sendiri )

Dari 10 soal yang diberikan, kita hanya boleh salah 3 soal, tapi dengan soal yang lebih mengarah ke logika dan bukan peraturan rinci sehingga seharusnya semua orang dapat lulus dengan mudah. Setelah dinyatakan lulus, kita tidak dapat langsung melanjutkan dengan ujian praktik, tapi masih harus “memesan” jadwal ujian, lalu mendapat kartu ujian yang harus diserahkan saat mengambil ujian praktik dan bahan-bahan untuk ujian praktik (peta jalur ujian praktik dan sedikit peraturan mengemudi).

Sebelumnya di bagian awal terdapat pilihan untuk mengambil SIM mobil manual atau otomatis. Mayoritas mobil di Jepang bertransmisi otomatis, hanya sebagian mobil angkutan atau sport yang menggunakan transmisi manual. Namun karena pemilik SIM manual boleh menggunakan mobil otomatis, tapi tidak sebaliknya, sebaiknya kita mengambil SIM manual saja.

Mobil ujian yang digunakan adalah sedan berukuran penuh serupa Lancer. Mobil ini seharusnya keren, namun dengan adanya spion dua tingkat berukuran raksasa, sempurnalah tampilannya sebagai mobil ujian. Sebagai catatan, mobil ini (dan mobil-mobil manual keluaran baru lainnya?) tidak dapat dihidupkan dengan hanya memutar kunci starter, namun juga harus ditambah dengan menginjak pedal kopling. Dengan tenaga yang besar, kita cukup menggunakan gigi 2 untuk melaju di jalur sirkuit, kecuali saat kita memang diperintahkan untuk mempercepat laju mobil.

Sebelum benar-benar mengemudi mobil, kita dapat menaiki mobil sebagai penumpang peserta ujian di urutan sebelum kita, sehingga dapat mempelajari sirkuit sekaligus mempelajari kesalahan-kesalahan yang dilakukan peserta lain. Tiga kali salah kita harus mengulang ujian, bahkan satu kali salah fatal langsung out. Apa definisi salah biasa dan salah fatal? Hanya penguji dan Yang Maha Kuasa yang tahu, jadi kita hanya dapat berdoa agar mendapatkan penguji yang baik hati :D

Jalur ujian praktik secara umum seperti sirkuit ditambah beberapa jalur sempit berbelok-belok serupa dengan jalan-jalan kecil di Tokyo. Di awal sirkuit terdapat tanda berhenti dan kita harus berhenti tepat sebelum garis putih, tidak kurang dan tidak lebih selama 2-3 detik. Gagal di tahap ini, silakan “memesan” jadwal ujian ulangan... dan membayar tambahan biayanya.

Tahapan sirkuit berikutnya tidak begitu sulit, kita hanya harus berjalan di sekitar gigi 2, di pinggir kiri (jangan coba-coba ke tengah) tanpa menyentuh garis pembatas jalan. Di satu jalur lurus kita harus mempercepat mobil hingga kecepatan 40 km/jam. Tidak perlu khawatir karena penguji akan memerintahkan kita kapan harus mempercepat dan memperlambat. Terdapat lampu-lampu lalu lintas yang harus dipatuhi, dan juga jalur yang memiliki kerucut-kerucut pengaman sebagai simulasi perbaikan jalan. Catatan penting: jangan ditabrak.

Kelihatannya jalur yang paling sulit adalah jalur sempit berkelok. Banyak peserta ujian yang gagal di tahap ini dengan menginjak trotoar atau terkadang menabrak tiang, terutama karena mobil yang digunakan adalah mobil sedan ukuran penuh dengan hidung depan dan belakang. Tips: jika kita menabrak trotoar, jangan diteruskan sehingga trotoar terinjak, tapi mundur dan mengulangi membelok.

Satu tips yang penting: Sikap. Banyak peserta yang gagal karena kurang menjaga hal ini. Peserta ujian konversi memang pemilik SIM di masing-masing negara mereka, sehingga wajar banyak yang merasa sudah mampu mengemudi dengan baik. Mereka biasanya gagal karena sikap yang tidak baik (=tidak mematuhi perintah penguji). Sebagai permulaan, pastikan mobil dalam keadaan baik, posisi kursi, spion dll pas untuk kita, sabuk pengaman pengemudi dan penumpang terpasang. Jangan lupa bersikap berlebihan saat mengecek keadaan jalur, selain melihat melalui spion juga biasakan mengecek langsung dengan melihat ke belakang untuk menghindari “titik mati” di kaca spion. Dan kesalahan yang paling sering saya lakukan: tidak menyalakan lampu sein saat membelok (hei, tidak ada siapapun di sirkuit! )

Alhamdulillah dengan modal penguji yang super baik, saya dapat lulus di percobaan pertama. Setelah lulus dan langsung difoto, kita hanya perlu menunggu sekitar setengah jam untuk mendapatkan SIM. Dengan lulus ujian tertulis dan praktik tanpa bisik-bisik dengan petugas, wajar jika dong kalau bangga punya SIM Jepang...

Catatan: Saya mendapatkan SIM pertama di tanah air tanpa ujian, melalui kursus mengemudi di kota tempat kelahiran. Saat itu usia saya 16 tahun, lebih muda satu tahun dari peraturan seharusnya. Bangga? Hmm...

 
The Gun of Thailand PDF Print E-mail

Hari Budiarto*

Indonesia dengan Thailand 5 tahun yang lalu sewaktu saya pertama kali pergi ke Thailand lebih maju Indonesia dg melihat suasana kota Bangkok dibandingkan dengan Jakarta, sekarang ketika saya kembali pergi ke Thailand dalam rangka International Symposium on Communication and Information Technology di Chiangmai Nov, 2001, wuaaaahhh sepertinya Jakarta kalah dg Bangkok, saat ini mereka telah punya sistem transportasi Kereta layang dg sistem persis seperti Jepang, karcis yang otomatis dg masukan coin untuk beli, untuk masuk ke gate, keluar gate dan dalam kereta yang bersih dg orang-orangnya yang teratur dg rapi kalau mau naik dan turun. Belum lagi Jalan Tol super highway yang mengelilingi Bangkok, mungkin lebih panjang punya mereka daripada Jasa Marga. Sepanjang jalan dari Airport ke pusat kota Bangkok gedung-gedung spt WTC di NY seperti berlomba-lomba untuk menyentuh langit, demikian juga diperempatan jalan banyak juga pedagang asongan tapi bedanya kalau di Jakarta disertai dengan! kapak merah kalau di Bangkok hanya jual bunga diasongan mereka, itulah kesan pertama kali puter-puter kota dengan beberapa teman dari KMITL (King Mongkut Institute of Technology Ladkrabang). Payahnya penyakit buta huruf saya jadi lebih parah pergi ke Thailand kalau di Jepang banyak kanjinya shg lengket disana-sini, di Thailand banyak cacingnya dimana-mana.

Read more...
 
Perjalanan ke Negara Penakluk Amerika PDF Print E-mail

Irwan Prayitno*

Setelah membaca artikel dari Pak Yudi mengenai perjalanan ke Jerman sebagai negara maju, giliran saya ditengah kesibukan riset, mencuri waktu untuk menulis artikel tentang Vietnam yang merupakan negara berkembang. Pada saat saya akan berangkat ke Vietnam, Oktober lalu, saya berusaha membayangkan, seperti apakah negara itu? Dan upaya itu selesai saat saya mendarat di Airport Noi Bai, Hanoi. Bangunan Airport tersebut lumayan modern, dan begitu kami keluar dari pintu pesawat, puluhan langkah kemudian langsung berhadapan dengan loket imigrasi. Wah pendek sekali! Setelah melalui counter imigrasi, saya dan Djoko (teman di Todai) langsung mencari Money Changer untuk menukar Yen ke Dong, dan ternyata tidak ada. Kami terpaksa menukar di kantor pos dengan dirubung para calo valas dan supir taxi gelap. Akhirnya setelah celingukan kami naik taxi resmi airport dengan biaya 10 USD.

Read more...
 
Melempar Koin di “Trevi de Fontana” PDF Print E-mail

Wahyudi*

Wah jadi pengin ikutan nulis tentang perjalanan yang aku lakukan dua bulan yang lalu. Tanggal 7 Juli – 17 Agustus 2001 aku harus menghadiri IEEE/ASME International Conference on Advanced Intelligent Mechatronics di Como, Italia. Aku sendiri cuman ngebayangin pergi ke konferensi saja 4 hari habis itu pulang. EH nggak tahunya, perjalananku di support oleh Sasaki Memorial Foundation sehingga aku malah harus melakukan perjalanan selama 10 hari dan harus menghabiskan uang 300 ribu yen. Senseiku yang kemudian mengatur perjalananku. Dia nanya nanya aku pengin ke mana aja selama di Italia, terus selain ke Italia aku di tawarin mau ke Paris apa ke London. Akhirnya aku memilih pergi ke London karena aku punya temen di sana yang bersedia mengantarkan aku keliling kota London. Maka jadilah di sepakati route perjalananku di eropa, yaitu 2 hari jalan-jalan di kota Roma, terus sehari di Milan, 4 hari seminar di deket danau Como, dan sisanya berada di London.

Read more...
 


Kampus Tokodai

2-12-1 Ookayama, Meguro-ku, Tokyo 152-8550
Suzukakedai Campus
4259 Nagatsuta-cho, Midori-ku, Yokohama, Kanagawa 226-8503
Tamachi Campus
3-3-6 Shibaura, Minato-ku, Tokyo 108-0023

Kontak Kami

Official purposes silahkan hubungi :
pengurus@ppitokodai.org
Pemasangan iklan silahkan hubungi :
iklan@ppitokodai.org
Mengenai website silahkan hubungi :
admin@ppitokodai.org
RocketTheme Joomla Templates